Pertama kali
nge-cap passport itu 16 Januari 2009. Itu juga dipaksain sempat nyebrang ke
Negara tetangga, Singapore.
Berbekal
tiket pesawat PP Jakarta – Batam 12 &
17 Januari 2009, saya dan setengahnya
anak TF ITB bertandang ke Batam hendak Kuliah Kerja. KulKer ini
sebenarnya tidak wajib, tidak masuk ke dalam SKS. Tetapi merupakan salah satu
cara yang di’halal’kan jurusan untuk membagi kelebihan pemasukan dengan dalih memberi
penglihatan dunia kerja kepada para mahasiswa dan juga kehidupan kampus di luar
sana.
Dulu awalnya
kita bermimpi ke Jepang, sudah dapat acceptance
dari salah satu universitas disana tetapi tidak dapat kita penuhi karena usaha
mencari dana kita masih terseok-seok. Beberapa bulan sebelum keberangkatan kita
merubah tujuan menjadi Singapore,
mengunjungi NTU. Tetapi pada akhirnya kita KulKer ke Batam karena dana yang
dikumpulkan secara serabutan-pun hanya cukup untuk perjalanan ke Batam dan
itupun kita harus nombok lagi untuk menambah biaya makan. Dasar mahasiswa kere!
:D
Perjalanan
dimulai dari depan kampus ITB Bandung, kita menyewa dua bus untuk ke Bandara
Soekarno-Hatta. Sebelumnya kita sempat singgah dulu ke Usmar Ismail Hall di
Jakarta yang pencahayaan dan akustiknya dirancang oleh Prof. Soegijanto, dosen
yang mengajarkan saya Fisika Bangunan.
| Usmar Ismail Hall |
Perjalanan
Jakarta – Batam memakan waktu 1 jam 20 menit. Saya biasanya memanfaatkan
penerbangan untuk tidur nyenyak, baru lepas landas saya bisa langsung tertidur
dan terbangun begitu sudah mendarat lagi, berbeda dengan kebanyakan teman saya
yang memang baru pertama kali naik pesawat. Heboh sendiri ketika lepas landas
karena merasa terdorong ke belakang dan takut nyelorot jatuh ketika mendarat.
Ada-ada saja.
Sesampai di
Batam, kita dijemput bis yang sudah dipesan sebelumnya di Bandara Hang Nadim
dan diantarkan ke asrama haji tempat kita menginap yang dekat ke Batam Centre.
Empat hari disana kita berkunjung ke McDermott, EcoGreen, Yokogawa, Universitas
Batam dan Pemerintahan Kota Batam. Tidak lupa untuk ke tempat wisata disana,
kita sempat ke Pulau Galang yang merupakan bekas kamp pengungsi Vietnam. Untuk
ke Pulau Galang itu-pun kita melewati Jembatan Barelang yang menjadi ikon kota
Batam. Teman-teman saya juga sempat bermain di Costarina, kawasan wisata tepi
pantai ketika saya pergi mengunjungi tante yang tinggal di Batam.
![]() |
| McDermott, salah satu tujuan KulKer |
| Jembatan Barelang, Batam |
Hari kelima
keenam kita diberi waktu bebas, yang mau melancong ke Singapore silahkan selama
Passport ada dan uang ada. Dengan catatan yang pulang bareng ke Jakarta sudah
kembali ke asrama haji 2 jam sebelum keberangkatan esok harinya. Dengan
berbekal Passport baru dan NPWP Orang Tua untuk bebas fiscal saya ke Singapore menggunakan kapal feri BatamFast yang berangkat pukul 6
pagi. Bersama yang lain pagi sekali di asrama sudah heboh, sehabis sholat subuh
kita sudah berangkat ke Pelabuhan Batam Centre membeli tiket dan langsung
berangkat.
Saya dan
beberapa teman lainnya membawa suitcase
karena saya berencana menginap sehari di Singapore
dan kembali esok harinya langsung ke Bandara hang Nadim. Jadilah begitu sampai
di Pelabuhan HarbourFront Singapore saya dan dua teman lainnya
mencari tempat penitipan barang dulu karena kita belum menemukan penginapan.
Karena mencari tempat penitipan barang khusus ini tidak gampang kita
ditinggalkan teman lainnya yang langsung mencari MRT terdekat.
Setelah
urusan titip-menitip beres, kami bertiga segera menuju MRT terdekat, HarbourFront. Membeli tiket standar
seharga 1 SGD di mesin untuk sekali perjalanan. Kita menuju halte Orchad
setelah transit dulu di halte Dhoby Ghaut. Rencana awal mau membeli tiket
khusus turis seharga 10 SGD unlimited
pemakaian di halte Orchad. 8 SGD untuk pemakaian satu hari dan 2 SGD deposit yang akan dikembalikan begitu
kita me-refund kartu tiket.
Setelah
mendapatkan The Singapore Tourist Pass,
kita keluar dulu dari halte Orchad. Jalan-jalan di kawasan Orchad yang terkenal
sebagai tempat gaul anak Singapore.
Disana kita poto-poto sebentar sambil menikmati duduk-duduk di kursi yang ada
di sepanjang jalan. Teman saya menyempatkan diri membeli kartu perdana supaya
bisa browsing mencari penginapan yang ternyata setelah ganti kartu dan
registrasi masih tidak bisa browsing. Yang paling saya ingat disana adalah
Orchad Hotel, karena sudah tahu mahal kita memang tidak akan singgah menginap
disana.
| Orchad Rd |
| Suasana di salah satu warnet kawasan Bugis |
Balik ke
halte, kita lanjut menuju halte Bugis. Menurut informasi yang kita dapatkan, di
bugis banyak hostel yang digunakan backpacker. Keluar dari halte kita mulai
keliling lagi tapi tidak menemukan, yang ada malah pasar. Kemudian kita
berinisiatif mencari warnet dan mendapatkannya di lantai 2 bangunan tua. Supaya
bisa masuk dan memakai computer, di
pintu masuk kita membayar 1 SGD untuk 30 menit pemakaian. Begitu masuk saya
kaget karena ternyata warnetnya gelap, hanya ada lampu warna-warni seperti
lampu di tempat karaoke. Dan pengunjungnya kebanyakan pelajar yang asik bermain
game. Ingat tujuan awal kita mulai browsing penginapan murah terdekat dan
mencatat alamat.
Menuju ke
tempat yang paling banyak pilihan kita naik MRT lagi ke halte Aljunied. Di
Aljunied kita keluar, berjalan keliling mencari penginapan. Ada beberapa
pilihan, salah satunya warga yang memang menyediakan 1 atau 2 kamar di rumahnya
untuk dijadikan penginapan backpacker.
Dan ya ampun yang punya galak abis, kita datang jam 12, dibuka pintu sedikit
sehingga kita bisa melihat bentuk rumahnya dan melihat ada satu bule lagi duduk
makan di meja makan. Kemudian bilang si bule tadi akan segera pergi dan kita
disuru datang jam 2 siang nanti. Akhirnya kita ngacir cari penginapan lainnya.
Sepenglihatan kita yang sama-sama asing dengan dunia sini merasa kalau daerah
sana tidak aman dan memutuskan untuk balik mencari lagi di daerah Bugis.
Karena sudah
menunjukkan waktu sholat akhirnya kita memutuskan untuk balik ke halte Bugis
dan berjalan kearah Arab Street karena disana ada Masjid. Kita sholat di Masjid
Malabar yang terletak di perempatan Vicoria St dan Kallang Rd. Masjidnya bagus,
rapi dan bersih sampai-sampai kita mau bertanya boleh menginap disini.
Disini kita istirahat sebentar.
Baliknya
kita berjalan ke arah halte Lavender melewati Lavender Garden dan jalanan yang sepi. Padahal merupakan jalan
besar, nikmatnyaa. Di halte Lavender akhirnya kita ketemu dengan teman lainnya.
Akhirnya setelah terlunta-lunta bertiga di negara orang tanpa komunikasi kita
bertemu dengan teman sendiri. Yup disana kita nggak bisa menghubungi
siapa-siapa karena kartu yang digunakan teman saya juga tidak berfungsi dan
tahun 2009 belum ada dari kita yang ber-Bl*ckb*rry.
Bergabung
dengan teman yang lainnya, kita ke halte City Hall. Tujuannya jelas mau ke
Esplanade. Dari hasil mengobrol dengan teman, akhirnya kita direkomendasikan
penginapan di lantai 30 sebuah mall yang merupakan apartemen mahasiswa asal
Indonesia. Apartemen yang terdiri dari 3 kamar hanya digunakan 1 kamar oleh 2
mahasiswa tsb sehingga mereka bisa menyewakan 2 kamar lainnya ke pengunjung
tipikal backpacker, minimum budget.
| Halte Lavender, ketemu sama kawanan lainnya :p |
Setelah berfoto sebentar di
jalanan depan esplanade, saya dan dua teman lainnya langsung menuju mall yang
direkomendasikan teman saya tadi sementara mereka masih terus jalan mencari
Merlion, ikon Singapore. Akhirnya kita dapat penginapan seharga 80 SGD
bertiga 1 kamar. Balik lagi ke halte HarbourFront mengambil barang titipan yang
kena charge lumayan gede. Balik lagi ke penginapan dan berangkat lagi menuju
halte Clarke Quay, pakai ilmu kira-kira karena teman yang tadi ketemu setelah
dari esplanade dan merlion akan lanjut jalan ke Clarke Quay.
Clarke Quay
merupakan salah satu daya tarik Singapore menurut kacamata saya. Tempatnya
indah, ada banyak tempat makan yang mahal, lampu-lampunya asik
berwarna-warni. Ada sungai kecil Singapore
River dan juga terdapat kapal yang dapat mengelilinginya. Disana juga ada bunging jumping berbentuk kapsul yang
harganya mahal banget, 50 SGD/orang. Salah satu teman saya beruntung karena ada
bule yang pengen naik tapi tidak punya teman, dia dan teman saya sepakat
membayar setengah-setengah untuk teman saya.
| Kawasan The Central, Clarke Quay di malam hari |
| duduk-duduk santai di Singapore River |
Setelah
mengitari The Central dan menikmati Singapore River. Saya dan dua teman
lanjut ke arah Bugis, tujuan terakhir belanja oleh-oleh. Beli kaos bertulis dan
bergambar Singapore beberapa biji dan
patung merlione beres. Di Bugis malah sempat-sempatnya ketemu dengan teman yang
lainnya lagi dengan tujuan yang sama. Jam 10 malam kita balik ke penginapan dan
tertidur pulas.
Besoknya, jam 5 pagi
bangun buat sholat dan sarapan. Jam 7 kita sudah beres packing dan checkout dari
penginapan, demi menghemat waktu bolak-balik ke penginapan. Pagi ini tujuan
kita hanya satu, ke Merlion. Tidak ke Singapore
namanya kalau belum sempat melihat patung singa ini. Jadilah kita berangkat
menuju halte Raffless Place. Dari informasi teman yang kemaren sudah ke
Merlion, letaknya lebih dekat ke halte Raffless Place ketimbang halte City
Hall. Ternyata dari halte Raffless Place pun jalannya masih lumayan. Di tengah
jalan kita sempat bertanya ke mas-mas tipikal mahasiswa kemana arah merlione yang
kemudian malah ketemu lagi di pelabuhan HarbourFront.
![]() |
| Merlion dan Esplanade |
Perjalanan tadipun terbayarkan ketika dari kejauhan kita sudah melihat Merlion si patung singa. Setelah puas menikmati pemandangan sekitar selam 30 menit, saya dan salah satu teman memutuskan untuk balik ke halte HarbourFront. Kita harus balik segera ke Batam sementara teman yang satunya lagi akan melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Bodohnya saya adalah tidak mengecek jam keberangkatan kapal feri ke Batam. Asumsi yang salah mengira kapal ada tiap jam yang ternyata hanya ada sekali dua jam. Dan keberangkatan kapal adanya di jam 9, jadinya kita menunggu kapal yang jam 11. Ini sudah cukup membuat deg-degan karena tiket kepulangan kita ke Jakarta dari Batam adanya di jam 11.30
Singapore dan Batam mengalami perbedaan waktu 1 jam dimana Singapore lebih cepat 1 jam. Jika pesawat saya dari Batam jam 11.30 maka jam 12.30 waktu Singapore seharusnya saya sudah berada di Bandara Hang Nadim. Sementara jam 11.00 saya baru akan berangkat dari pelabuhan HarbourFront ke pelabuhan Batam Centre dengan perjalanan selama 45-60 menit. Dari pelabuhan Batam Centre ke Bandara Hang Nadim memerlukan waktu 20 menit dengan taksi. Belum lagi mengurus di keimigrasian begitu sampai di pelabuhan Batam Centre. Ah saya sudah pusing, teman sayapun begitu. Kita tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Dan akhirnya membuat plan B jika kemungkinan terburuk kita ditinggal pesawat. Kita akan ke rumah tante saya yang di Batam dan saya mau melanjutkan bermain ke Bengkalis mengunjungi nenek sementara teman saya balik ke Padang mumpung lagi liburan semester.
Jam 11.00
waktu Singapore kita sudah di kapal menuju Batam. Begitu melewati perbatasan
negara barulah hp kita berbunyi, banyak sms masuk menanyakan keberadaan kita
karena semua udah menunggu di bandara Hang Nadim. Kemudian saya menelpon salah
satu teman disana dan memberikan kabar kalau kita masih di kapal menuju Batam
Centre. Teman saya panik kita udah panik dari tadi. Mereka sudah check-in, tiket kita juga sudah diurus.
Mendengar kita yang heboh telponan ternyata menggugah perasaan seorang
bapak-bapak. Bapak baik hati yang duduk di bangku sebelah saya selama di kapal
memberikan saran, begitu kapal sampai kita disuru lari duluan ke arah imigrasi.
Suitcase kita yang ada dua nanti
ditolongin beliau membawanya. Awalnya saya kira bercanda tapi ternyata bapak
tersebut sering bolak-balik Batam Singapore dan kenal beberapa orang yang mau
membantu membawakan suitcase kita.
Seriously, masih banyak orang Indonesia
yang peduli sesamaJ
Karena ombak
yang lumayan besar, kita sampai di pelabuhan Batam centre jam 12.00 waktu
Singapore. saya dan teman langsung lari keluar kapal dan menuju keimigrasian.
Memberikan passport untuk di cap kembali. Dan mengambil tas yang sudah melewati
scan. Mengucapkan terimakasih ke bapak-bapak yang nolongin dan berlari lagi
menuju pintu keluar. Langsung naik taksi yang ada tanpa tawar menawar. Meminta
untuk segera ngebut ke Bandara Hang Nadim, 20 menit kemudian kita sudah tiba di
Bandara Hang Nadim. Sudah jam 11.30, mendatangi counter si pesawat tempat teman saya menitipkan tiket kita in case kita keburu dan mereka sudah boarding.
Saya menelpon
teman mengabarkan kita udah di bandara dan teman saya ke counter menanyakan
tiket. Tiba-tiba dari kejauahan muncullah tiga teman saya berlari-lari ke arah
kami. Sangat beruntungnya. Mereka membantu membawa suitcase kita dan berlari lagi ke waiting room. Baru saja saya menarik nafas panjang duduk dan dapat
kabar dari teman pesawat delay, kita sudah mendengar pengumuman lagi sudah bisa
boarding. Pesawat ternyata delay 10menit karena masih melakukan pemeriksaan
kesehatan pesawat. Waw benar-benar serasa memacu adrenalin. Tidak kebayang
rasanya ditinggal pesawat yang berjarak 10menit. Hehehe
Pesan moral: Rencanakan perjalanan anda dengan matang dan perhatikan transportasi yang ada. Ingat
waktu! Ingat uang! Ingat kesehatan! CheersJ



2 comments:
waktu nitip barang di harbour front kena tarif brapa per jamnya?terus naik taksi dr batam centre ke hang nadim bayar brp mbak?thx ya
kalau di rupiahin sekitar 100an ribu selama 6jam. lumayan mahal. saran saya mending cari penginapan dulu buat naro barang. hehe
kalau naksi ke bandara 60rb seingat saya :D
Post a Comment