Monday, December 26, 2011

Perjalanan Cap Passport Pertama Kali

Pertama kali nge-cap passport itu 16 Januari 2009. Itu juga dipaksain sempat nyebrang ke Negara tetangga, Singapore.

Berbekal tiket pesawat PP Jakarta – Batam  12 & 17 Januari 2009, saya dan setengahnya  anak TF ITB bertandang ke Batam hendak Kuliah Kerja. KulKer ini sebenarnya tidak wajib, tidak masuk ke dalam SKS. Tetapi merupakan salah satu cara yang di’halal’kan jurusan untuk membagi kelebihan pemasukan dengan dalih memberi penglihatan dunia kerja kepada para mahasiswa dan juga kehidupan kampus di luar sana.

Dulu awalnya kita bermimpi ke Jepang, sudah dapat acceptance dari salah satu universitas disana tetapi tidak dapat kita penuhi karena usaha mencari dana kita masih terseok-seok. Beberapa bulan sebelum keberangkatan kita merubah tujuan menjadi Singapore, mengunjungi NTU. Tetapi pada akhirnya kita KulKer ke Batam karena dana yang dikumpulkan secara serabutan-pun hanya cukup untuk perjalanan ke Batam dan itupun kita harus nombok lagi untuk menambah biaya makan. Dasar mahasiswa kere! :D

Perjalanan dimulai dari depan kampus ITB Bandung, kita menyewa dua bus untuk ke Bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya kita sempat singgah dulu ke Usmar Ismail Hall di Jakarta yang pencahayaan dan akustiknya dirancang oleh Prof. Soegijanto, dosen yang mengajarkan saya Fisika Bangunan.

Usmar Ismail Hall

Perjalanan Jakarta – Batam memakan waktu 1 jam 20 menit. Saya biasanya memanfaatkan penerbangan untuk tidur nyenyak, baru lepas landas saya bisa langsung tertidur dan terbangun begitu sudah mendarat lagi, berbeda dengan kebanyakan teman saya yang memang baru pertama kali naik pesawat. Heboh sendiri ketika lepas landas karena merasa terdorong ke belakang dan takut nyelorot jatuh ketika mendarat. Ada-ada saja.

Sesampai di Batam, kita dijemput bis yang sudah dipesan sebelumnya di Bandara Hang Nadim dan diantarkan ke asrama haji tempat kita menginap yang dekat ke Batam Centre. Empat hari disana kita berkunjung ke McDermott, EcoGreen, Yokogawa, Universitas Batam dan Pemerintahan Kota Batam. Tidak lupa untuk ke tempat wisata disana, kita sempat ke Pulau Galang yang merupakan bekas kamp pengungsi Vietnam. Untuk ke Pulau Galang itu-pun kita melewati Jembatan Barelang yang menjadi ikon kota Batam. Teman-teman saya juga sempat bermain di Costarina, kawasan wisata tepi pantai ketika saya pergi mengunjungi tante yang tinggal di Batam.

McDermott, salah satu tujuan KulKer

Jembatan Barelang, Batam

Hari kelima keenam kita diberi waktu bebas, yang mau melancong ke Singapore silahkan selama Passport ada dan uang ada. Dengan catatan yang pulang bareng ke Jakarta sudah kembali ke asrama haji 2 jam sebelum keberangkatan esok harinya. Dengan berbekal Passport baru dan NPWP Orang Tua untuk bebas fiscal saya ke Singapore menggunakan kapal feri BatamFast yang berangkat pukul 6 pagi. Bersama yang lain pagi sekali di asrama sudah heboh, sehabis sholat subuh kita sudah berangkat ke Pelabuhan Batam Centre membeli tiket dan langsung berangkat.

Saya dan beberapa teman lainnya membawa suitcase karena saya berencana menginap sehari di Singapore dan kembali esok harinya langsung ke Bandara hang Nadim. Jadilah begitu sampai di Pelabuhan HarbourFront Singapore saya dan dua teman lainnya mencari tempat penitipan barang dulu karena kita belum menemukan penginapan. Karena mencari tempat penitipan barang khusus ini tidak gampang kita ditinggalkan teman lainnya yang langsung mencari MRT terdekat.

Setelah urusan titip-menitip beres, kami bertiga segera menuju MRT terdekat, HarbourFront. Membeli tiket standar seharga 1 SGD di mesin untuk sekali perjalanan. Kita menuju halte Orchad setelah transit dulu di halte Dhoby Ghaut. Rencana awal mau membeli tiket khusus turis seharga 10 SGD unlimited pemakaian di halte Orchad. 8 SGD untuk pemakaian satu hari dan 2 SGD deposit yang akan dikembalikan begitu kita me-refund kartu tiket.

Setelah mendapatkan The Singapore Tourist Pass, kita keluar dulu dari halte Orchad. Jalan-jalan di kawasan Orchad yang terkenal sebagai tempat gaul anak Singapore. Disana kita poto-poto sebentar sambil menikmati duduk-duduk di kursi yang ada di sepanjang jalan. Teman saya menyempatkan diri membeli kartu perdana supaya bisa browsing mencari penginapan yang ternyata setelah ganti kartu dan registrasi masih tidak bisa browsing. Yang paling saya ingat disana adalah Orchad Hotel, karena sudah tahu mahal kita memang tidak akan singgah menginap disana.

Orchad Rd

Suasana di salah satu warnet kawasan Bugis

Balik ke halte, kita lanjut menuju halte Bugis. Menurut informasi yang kita dapatkan, di bugis banyak hostel yang digunakan backpacker. Keluar dari halte kita mulai keliling lagi tapi tidak menemukan, yang ada malah pasar. Kemudian kita berinisiatif mencari warnet dan mendapatkannya di lantai 2 bangunan tua. Supaya bisa masuk dan memakai computer, di pintu masuk kita membayar 1 SGD untuk 30 menit pemakaian. Begitu masuk saya kaget karena ternyata warnetnya gelap, hanya ada lampu warna-warni seperti lampu di tempat karaoke. Dan pengunjungnya kebanyakan pelajar yang asik bermain game. Ingat tujuan awal kita mulai browsing penginapan murah terdekat dan mencatat alamat.

Menuju ke tempat yang paling banyak pilihan kita naik MRT lagi ke halte Aljunied. Di Aljunied kita keluar, berjalan keliling mencari penginapan. Ada beberapa pilihan, salah satunya warga yang memang menyediakan 1 atau 2 kamar di rumahnya untuk dijadikan penginapan backpacker. Dan ya ampun yang punya galak abis, kita datang jam 12, dibuka pintu sedikit sehingga kita bisa melihat bentuk rumahnya dan melihat ada satu bule lagi duduk makan di meja makan. Kemudian bilang si bule tadi akan segera pergi dan kita disuru datang jam 2 siang nanti. Akhirnya kita ngacir cari penginapan lainnya. Sepenglihatan kita yang sama-sama asing dengan dunia sini merasa kalau daerah sana tidak aman dan memutuskan untuk balik mencari lagi di daerah Bugis.

Karena sudah menunjukkan waktu sholat akhirnya kita memutuskan untuk balik ke halte Bugis dan berjalan kearah Arab Street karena disana ada Masjid. Kita sholat di Masjid Malabar yang terletak di perempatan Vicoria St dan Kallang Rd. Masjidnya bagus, rapi dan bersih sampai-sampai kita mau bertanya boleh menginap disini. Disini kita istirahat sebentar.

Suasana di Arab Street

Baliknya kita berjalan ke arah halte Lavender melewati Lavender Garden dan jalanan yang sepi. Padahal merupakan jalan besar, nikmatnyaa. Di halte Lavender akhirnya kita ketemu dengan teman lainnya. Akhirnya setelah terlunta-lunta bertiga di negara orang tanpa komunikasi kita bertemu dengan teman sendiri. Yup disana kita nggak bisa menghubungi siapa-siapa karena kartu yang digunakan teman saya juga tidak berfungsi dan tahun 2009 belum ada dari kita yang ber-Bl*ckb*rry.

Bergabung dengan teman yang lainnya, kita ke halte City Hall. Tujuannya jelas mau ke Esplanade. Dari hasil mengobrol dengan teman, akhirnya kita direkomendasikan penginapan di lantai 30 sebuah mall yang merupakan apartemen mahasiswa asal Indonesia. Apartemen yang terdiri dari 3 kamar hanya digunakan 1 kamar oleh 2 mahasiswa tsb sehingga mereka bisa menyewakan 2 kamar lainnya ke pengunjung tipikal backpacker, minimum budget.

Halte Lavender, ketemu sama kawanan lainnya :p

Setelah berfoto sebentar di jalanan depan esplanade, saya dan dua teman lainnya langsung menuju mall yang direkomendasikan teman saya tadi sementara mereka masih terus jalan mencari Merlion, ikon Singapore. Akhirnya kita dapat penginapan seharga 80 SGD bertiga 1 kamar. Balik lagi ke halte HarbourFront mengambil barang titipan yang kena charge lumayan gede. Balik lagi ke penginapan dan berangkat lagi menuju halte Clarke Quay, pakai ilmu kira-kira karena teman yang tadi ketemu setelah dari esplanade dan merlion akan lanjut jalan ke Clarke Quay.

Clarke Quay merupakan salah satu daya tarik Singapore menurut kacamata saya. Tempatnya indah, ada banyak tempat makan yang mahal, lampu-lampunya asik berwarna-warni. Ada sungai kecil Singapore River dan juga terdapat kapal yang dapat mengelilinginya. Disana juga ada bunging jumping berbentuk kapsul yang harganya mahal banget, 50 SGD/orang. Salah satu teman saya beruntung karena ada bule yang pengen naik tapi tidak punya teman, dia dan teman saya sepakat membayar setengah-setengah untuk teman saya.

Kawasan The Central, Clarke Quay di malam hari

duduk-duduk santai di Singapore River

Setelah mengitari The Central dan menikmati Singapore River. Saya dan dua teman lanjut ke arah Bugis, tujuan terakhir belanja oleh-oleh. Beli kaos bertulis dan bergambar Singapore beberapa biji dan patung merlione beres. Di Bugis malah sempat-sempatnya ketemu dengan teman yang lainnya lagi dengan tujuan yang sama. Jam 10 malam kita balik ke penginapan dan tertidur pulas.

Besoknya, jam 5 pagi bangun buat sholat dan sarapan. Jam 7 kita sudah beres packing dan checkout dari penginapan, demi menghemat waktu bolak-balik ke penginapan. Pagi ini tujuan kita hanya satu, ke Merlion. Tidak ke Singapore namanya kalau belum sempat melihat patung singa ini. Jadilah kita berangkat menuju halte Raffless Place. Dari informasi teman yang kemaren sudah ke Merlion, letaknya lebih dekat ke halte Raffless Place ketimbang halte City Hall. Ternyata dari halte Raffless Place pun jalannya masih lumayan. Di tengah jalan kita sempat bertanya ke mas-mas tipikal mahasiswa kemana arah merlione yang kemudian malah ketemu lagi di pelabuhan HarbourFront.

Merlion dan Esplanade

Perjalanan tadipun terbayarkan ketika dari kejauhan kita sudah melihat Merlion si patung singa. Setelah puas menikmati pemandangan sekitar selam 30 menit, saya dan salah satu teman memutuskan untuk balik ke halte HarbourFront. Kita harus balik segera ke Batam sementara teman yang satunya lagi akan melanjutkan perjalanan ke Malaysia. Bodohnya saya adalah tidak mengecek jam keberangkatan kapal feri ke Batam. Asumsi yang salah mengira kapal ada tiap jam yang ternyata hanya ada sekali dua jam. Dan keberangkatan kapal adanya di jam 9, jadinya kita menunggu kapal yang jam 11. Ini sudah cukup membuat deg-degan karena tiket kepulangan kita ke Jakarta dari Batam adanya di jam 11.30

Singapore dan Batam mengalami perbedaan waktu 1 jam dimana Singapore lebih cepat 1 jam. Jika pesawat saya dari Batam jam 11.30 maka jam 12.30 waktu Singapore seharusnya saya sudah berada di Bandara Hang Nadim. Sementara jam 11.00 saya baru akan berangkat dari pelabuhan HarbourFront ke pelabuhan Batam Centre dengan perjalanan selama 45-60 menit. Dari pelabuhan Batam Centre ke Bandara Hang Nadim memerlukan waktu 20 menit dengan taksi. Belum lagi mengurus di keimigrasian begitu sampai di pelabuhan Batam Centre. Ah saya sudah pusing, teman sayapun begitu. Kita tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Dan akhirnya membuat plan B jika kemungkinan terburuk kita ditinggal pesawat. Kita akan ke rumah tante saya yang di Batam dan saya mau melanjutkan bermain ke Bengkalis mengunjungi nenek sementara teman saya balik ke Padang mumpung lagi liburan semester.

Jam 11.00 waktu Singapore kita sudah di kapal menuju Batam. Begitu melewati perbatasan negara barulah hp kita berbunyi, banyak sms masuk menanyakan keberadaan kita karena semua udah menunggu di bandara Hang Nadim. Kemudian saya menelpon salah satu teman disana dan memberikan kabar kalau kita masih di kapal menuju Batam Centre. Teman saya panik kita udah panik dari tadi. Mereka sudah check-in, tiket kita juga sudah diurus. Mendengar kita yang heboh telponan ternyata menggugah perasaan seorang bapak-bapak. Bapak baik hati yang duduk di bangku sebelah saya selama di kapal memberikan saran, begitu kapal sampai kita disuru lari duluan ke arah imigrasi. Suitcase kita yang ada dua nanti ditolongin beliau membawanya. Awalnya saya kira bercanda tapi ternyata bapak tersebut sering bolak-balik Batam Singapore dan kenal beberapa orang yang mau membantu membawakan suitcase kita. Seriously, masih banyak orang Indonesia  yang peduli sesamaJ

Karena ombak yang lumayan besar, kita sampai di pelabuhan Batam centre jam 12.00 waktu Singapore. saya dan teman langsung lari keluar kapal dan menuju keimigrasian. Memberikan passport untuk di cap kembali. Dan mengambil tas yang sudah melewati scan. Mengucapkan terimakasih ke bapak-bapak yang nolongin dan berlari lagi menuju pintu keluar. Langsung naik taksi yang ada tanpa tawar menawar. Meminta untuk segera ngebut ke Bandara Hang Nadim, 20 menit kemudian kita sudah tiba di Bandara Hang Nadim. Sudah jam 11.30, mendatangi counter si pesawat tempat teman saya menitipkan tiket kita in case kita keburu dan mereka sudah boarding.

Saya menelpon teman mengabarkan kita udah di bandara dan teman saya ke counter menanyakan tiket. Tiba-tiba dari kejauahan muncullah tiga teman saya berlari-lari ke arah kami. Sangat beruntungnya. Mereka membantu membawa suitcase kita dan berlari lagi ke waiting room. Baru saja saya menarik nafas panjang duduk dan dapat kabar dari teman pesawat delay, kita sudah mendengar pengumuman lagi sudah bisa boarding. Pesawat ternyata delay 10menit karena masih melakukan pemeriksaan kesehatan pesawat. Waw benar-benar serasa memacu adrenalin. Tidak kebayang rasanya ditinggal pesawat yang berjarak 10menit. Hehehe

Pesan moral: Rencanakan perjalanan anda dengan matang dan perhatikan transportasi yang ada. Ingat waktu! Ingat uang! Ingat kesehatan! CheersJ

2 comments:

. said...

waktu nitip barang di harbour front kena tarif brapa per jamnya?terus naik taksi dr batam centre ke hang nadim bayar brp mbak?thx ya

Yola SS said...

kalau di rupiahin sekitar 100an ribu selama 6jam. lumayan mahal. saran saya mending cari penginapan dulu buat naro barang. hehe
kalau naksi ke bandara 60rb seingat saya :D