Cerita ini tadinya
mau diikutsertakan di Proyek Nostalgia SMA di NulisBuku. Tapi karena saya tidak
punya waktu, cerita inipun baru kelar sekarang. Haduu
Momok
ini sudah ditanamkan di otak saya begitu pertama kali duduk di bangku kelas
satu SMA. Pertama kali mengenal kimia dan dapet guru yang punya hobi sangat
unik sekali, di awal perkenalan beliau, sebut saja ibu ‘tiga’ (bukan nama
samaran) sudah menakut-nakuti kita dengan hukuman atas pelanggaran yang kita
lakukan di kelas beliau.
“Ibu
(bu ‘tiga’, red) menjelaskan dan kalian (siswa, red) harus mencatatnya di
kertas buram”. Begitu kata-kata si ibu di kelas pertama yang kita ikuti. Kertas
buram disini nggak sekedar kertas buram, tapi harus potongan kertas yang bersih
dan tulisan harus dapat dibaca karena sewaktu-waktu si ibu bisa saja memeriksa
catatan buram kita. Isinya pun ditentukan, begitu beliau bilang ini dicatat ini
penting lalu kita pindahkanlah apa itu yang penting ke potongan kertas buram.
Jadi tiap siswa mempunyai kertas buram masing masing yang isinya hampir sama
antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Dan kalau kita kedapatan tidak
mencatat apa yang dikatakan beliau di kertas buram sudah tentu bakalan dapat
hukuman piciak alias cubit. Biasa? Oh tentu tidak,
karena piciak beliau ditempatkan di tempat yang tidak biasa
yaitu di pergelangan tangan atas dekat ketiak yang menghadap ke dalam,
kebayang kan bagian tersebut kebanyakan lemak dan ketika dipiciak dengan
ujung jari akan terasa perih sekali.
Untuk
membuat kita si anak baru masuk SMA percaya, beliau menambahkan kalimat, “Kalau
kalian tidak percaya, tanyakan saja sama senior kalian di asrama nanti”. Ya
kita tinggal di asrama demi dapat mencicipi kelas unggulan di SMA ini, padahal
rumah saya pun adanya di balik pagar sekolah.
Begitu
kelas usai siang harinya dan kita kembali ke asrama, makan siang pun heboh
dengan menginterogasi kakak-kakak dan uni-uni kamar masing-masing. Dan ya yang
namanya senior, selain memang benar adanya apa yang diucapkan bu ‘tiga’ tadi
siang, juga menambah-nambahkan bumbu demi kesenangan melihat ketakutan si anak
baru.
Di
kelas berikutnya, kita belajar dengan sungguh-sungguh (baca: mencatat di kertas
buram). Segala upaya dicoba untuk menghilangkan kantuk karena jam pelajaran
adanya di jam-jam rawan, sebenernya buat saya semua jam rawan, begitu masuk
kelas saya udah nguap, merasakan kantuk yang luar biasa.
Selang
berapa kali pertemuan kelas, diadakanlah ujian untuk bab pertama 'Struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia' yang
merupakan hapalan semua dan saat-saat itu saya yang masih suka kabur pulang
dari asrama buat nonton, jadi nyampe rumah-pun nggak belajar. Hasilnya tentu
bisa ditebak, saya dapat nilai 43 skala 100 untuk ujian ini dan dihadiahi 4
piciak di lengan atas. Mantapp abis! Bab selanjutnya saya bertekad untuk
meningkatkan nilai, bayangan betapa malunya dipiciak beliau di depan kelas
sungguh memacu saya untuk belajar, dan kebetulan sekali sudah tidak hapalan
lagi. Semakin terpaculah saya belajar. Dan jeng jeng jeng begitu ujian kedua
saya dapaet 82 skala 100. Wow prestasi yang luar biasa. Beliau juga sempat
menyebut-nyebutkan nama saya (dan satu teman saya yang senasib) di depan kelas,
contoh mereka berdua, nilainya jadi 2x lipat! pamer dulu
Lain
lagi ketika pelajaran Asam & Basa, salah satu topik yang menarik di mata
saya. Bagi saya jika topiknya menarik sangat mudah bagi saya untuk belajar.
Tanpa embel-embel ujian pun saya dengan sukarela akan belajar, olah-olah soal
yang ada dan mencoba ngertiin konsepnya. Tibalah saat ujian bab ini, saya
dengan yakin menjawabnya. Begitu hasil ujian sudah beres diperiksa ibu, seperti
biasa akan dibagikan di kelas dan bagi siapa saja yang mendapat nilai di bawah
target yang ditetapkan maka akan di hadiahi cubitan luar biasa.
Biasa
ibu memasang target 80 skala 100. Tapi hari itu si ibu dengan kecewa mengatakan
mesti menurunkan target nilainya untuk kelas saya, bahkan kelas sebelah juga.
Kelas sebelah yang selalu dibangga-banggakan si ibu karena memang anak kelas
sebelah lebih rajin belajar, tidak ribut, lebih tertib dan lebih patuh. Dengan
target yang diturunkan menjadi 70 si ibu tetap kecewa karena hanya ada dua
orang dari kelas saya yang bisa menembus nilai tersebut. Dari bisik-bisik yang
kita timbulkan sudah bisa ditebak satu dari dua orang tersebut, tentu anak
kesayangan si ibu. Tidak salah ibu memilih anak kesayangan karena memang si
anak punya passion yang tinggi terhadap mata pelajaran kimia dan tentu saja dia
pintar. Tidak, itu bukan saya.
Ketika
si ibu mulai membagikan hasil ujian, dipanggillah si anak kesayangan tadi. Ibu
‘tiga’ juga punya kebiasaan membagikan hasil ujian dari nilai tertinggi ke
terendah. Kemudian nama saya dipanggil, sedikit lega karena saya terbebas
dari hadiah yang akan diterima siswa lainnya di kelas saya.
Maju ke depan dengan gontai karena sejujurnya saya sedang mengantuk, mengambil
kertas hasil ujian dan kembali ke tempat duduk. Melihat angka 73 terpampang di
kertas itu tidak membuat saya senang, mulailah mencari-cari kesalahan apa yang
saya buat saat ujian. Menemukan satu silang di kertas ujian saya dan lainnya
penuh dengan coretan checklist berwarna merah. Saya heran.
Salah sedikit kenapa nilai saya berkurang banyak.
Ibu ‘tiga’
sangat demokratis. Setelah kita mendapatkan kertas hasil ujian dipersilakan
memeriksa dan protes jika ada yang tidak sesuai. Saya mulai hilir mudik mencari
teman saya si-anak-kesayangan-ibu, mengambil kertasnya begitu saja dan
memeriksa apa yang salah, bertanya apakah salahnya sama dengan yang saya
buat pentingnyaaaa. haha dan ternyata saya juga hanya
menemukan kesalahan kecil pada kertas teman saya. Saya bingung. Teman saya
tidak. Dia mulai menghitung kembali total nilai yang dia peroleh dan ternyata
dia menemukan kesalahan perhitungan dari si ibu. Baru kali ini terjadi. Sungguh.
Berdua
kita mendatangi ibu, memberitahukan dan mempertanyakan kemungkinan kesalahan
perhitungan hasil ujian. Ibu baru sadar. Teman-teman yang lain menyimak.
Menghitung kembali nilai masing-masing dan taraaaa lebih dari 50% siswa di
kelas saya mendapatkan nilai di atas 80.
Masalah
timbul. Ibu sudah memberikan hadiah masing-masing ke tiap siswa di kelas saya,
selain saya dan anak-kesayangan-ibu yang dari sebelum kesalahan perhitungan
sudah mendapat nilai di atas 70 songong. Teman-teman saya mulai
bercanda dengan si ibu, dengan mengatakan kesakitan habis dikasi hadiah. Si ibu
pusing dan akhirnya terlontarlah kalimat yang sangat sakti dari mulut ibu “Kalian
yang mau cubitannya dibalikin, cubit saja saya”. LOL
Saya
hanya senyam-senyum dikulum mendengarkan pernyataan si ibu. Teman-teman saya
pun begitu. Sesakit apapun cubitan yang didapatkan teman saya tidak membuat
kita menjadi durhaka. Guru tetaplah guru, manusia yang bisa melakukan kesalahan.
Terlepas
dari hal tersebut, kejadian ini tidak mempengaruhi si ibu untuk mengganti
hadiahnya menjadi hadiah yang lain. semacam coklat misalnya untuk anak-anak
yang dapat nilai di atas target ngarep. Satu hal yang jelas, hadiah
ibu cukup memotivasi saya belajar yang benar untuk mata pelajaran kimia. Dan
sampai saat kuliah kimia termasuk top 5 mata pelajaran yang saya sukai.


2 comments:
Alangkah indahnya kalau pernah dapat nilai "0".. sedaapp...
@a_LanD_a: panen donkk :D
Post a Comment