Tuesday, December 6, 2011

'Piciak' - Hadiah Untuk si Pemalas Belajar Kimia


Cerita ini tadinya mau diikutsertakan di Proyek Nostalgia SMA di NulisBuku. Tapi karena saya tidak punya waktu, cerita inipun baru kelar sekarang. Haduu




Momok ini sudah ditanamkan di otak saya begitu pertama kali duduk di bangku kelas satu SMA. Pertama kali mengenal kimia dan dapet guru yang punya hobi sangat unik sekali, di awal perkenalan beliau, sebut saja ibu ‘tiga’ (bukan nama samaran) sudah menakut-nakuti kita dengan hukuman atas pelanggaran yang kita lakukan di kelas beliau.

“Ibu (bu ‘tiga’, red) menjelaskan dan kalian (siswa, red) harus mencatatnya di kertas buram”. Begitu kata-kata si ibu di kelas pertama yang kita ikuti. Kertas buram disini nggak sekedar kertas buram, tapi harus potongan kertas yang bersih dan tulisan harus dapat dibaca karena sewaktu-waktu si ibu bisa saja memeriksa catatan buram kita. Isinya pun ditentukan, begitu beliau bilang ini dicatat ini penting lalu kita pindahkanlah apa itu yang penting ke potongan kertas buram. Jadi tiap siswa mempunyai kertas buram masing masing yang isinya hampir sama antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Dan kalau kita kedapatan tidak mencatat apa yang dikatakan beliau di kertas buram sudah tentu bakalan dapat hukuman piciak alias cubit. Biasa? Oh tentu tidak, karena piciak beliau ditempatkan di tempat yang tidak biasa yaitu di pergelangan tangan atas dekat  ketiak yang menghadap ke dalam, kebayang kan bagian tersebut kebanyakan lemak dan ketika dipiciak dengan ujung jari akan terasa perih sekali.

Untuk membuat kita si anak baru masuk SMA percaya, beliau menambahkan kalimat, “Kalau kalian tidak percaya, tanyakan saja sama senior kalian di asrama nanti”. Ya kita tinggal di asrama demi dapat mencicipi kelas unggulan di SMA ini, padahal rumah saya pun adanya di balik pagar sekolah.

Begitu kelas usai siang harinya dan kita kembali ke asrama, makan siang pun heboh dengan menginterogasi kakak-kakak dan uni-uni kamar masing-masing. Dan ya yang namanya senior, selain memang benar adanya apa yang diucapkan bu ‘tiga’ tadi siang, juga menambah-nambahkan bumbu demi kesenangan melihat ketakutan si anak baru.

Di kelas berikutnya, kita belajar dengan sungguh-sungguh (baca: mencatat di kertas buram). Segala upaya dicoba untuk menghilangkan kantuk karena jam pelajaran adanya di jam-jam rawan, sebenernya buat saya semua jam rawan, begitu masuk kelas saya udah nguap, merasakan kantuk yang luar biasa.

Selang berapa kali pertemuan kelas, diadakanlah ujian untuk bab pertama 'Struktur atom, sifat-sifat periodik  unsur, dan ikatan kimia' yang merupakan hapalan semua dan saat-saat itu saya yang masih suka kabur pulang dari asrama buat nonton, jadi nyampe rumah-pun nggak belajar. Hasilnya tentu bisa ditebak, saya dapat nilai 43 skala 100 untuk ujian ini dan dihadiahi 4 piciak di lengan atas. Mantapp abis! Bab selanjutnya saya bertekad untuk meningkatkan nilai, bayangan betapa malunya dipiciak beliau di depan kelas sungguh memacu saya untuk belajar, dan kebetulan sekali sudah tidak hapalan lagi. Semakin terpaculah saya belajar. Dan jeng jeng jeng begitu ujian kedua saya dapaet 82 skala 100. Wow prestasi yang luar biasa. Beliau juga sempat menyebut-nyebutkan nama saya (dan satu teman saya yang senasib) di depan kelas, contoh mereka berdua, nilainya jadi 2x lipat! pamer dulu



**



Lain lagi ketika pelajaran Asam & Basa, salah satu topik yang menarik di mata saya. Bagi saya jika topiknya menarik sangat mudah bagi saya untuk belajar. Tanpa embel-embel ujian pun saya dengan sukarela akan belajar, olah-olah soal yang ada dan mencoba ngertiin konsepnya. Tibalah saat ujian bab ini, saya dengan yakin menjawabnya. Begitu hasil ujian sudah beres diperiksa ibu, seperti biasa akan dibagikan di kelas dan bagi siapa saja yang mendapat nilai di bawah target yang ditetapkan maka akan di hadiahi cubitan luar biasa.

Biasa ibu memasang target 80 skala 100. Tapi hari itu si ibu dengan kecewa mengatakan mesti menurunkan target nilainya untuk kelas saya, bahkan kelas sebelah juga. Kelas sebelah yang selalu dibangga-banggakan si ibu karena memang anak kelas sebelah lebih rajin belajar, tidak ribut, lebih tertib dan lebih patuh. Dengan target yang diturunkan menjadi 70 si ibu tetap kecewa karena hanya ada dua orang dari kelas saya yang bisa menembus nilai tersebut. Dari bisik-bisik yang kita timbulkan sudah bisa ditebak satu dari dua orang tersebut, tentu anak kesayangan si ibu. Tidak salah ibu memilih anak kesayangan karena memang si anak punya passion yang tinggi terhadap mata pelajaran kimia dan tentu saja dia pintar. Tidak, itu bukan saya.

Ketika si ibu mulai membagikan hasil ujian, dipanggillah si anak kesayangan tadi. Ibu ‘tiga’ juga punya kebiasaan membagikan hasil ujian dari nilai tertinggi ke terendah. Kemudian nama saya dipanggil, sedikit lega karena saya terbebas dari hadiah yang akan diterima siswa lainnya di kelas saya. Maju ke depan dengan gontai karena sejujurnya saya sedang mengantuk, mengambil kertas hasil ujian dan kembali ke tempat duduk. Melihat angka 73 terpampang di kertas itu tidak membuat saya senang, mulailah mencari-cari kesalahan apa yang saya buat saat ujian. Menemukan satu silang di kertas ujian saya dan lainnya penuh dengan coretan checklist berwarna merah. Saya heran. Salah sedikit kenapa nilai saya berkurang banyak.

Ibu ‘tiga’ sangat demokratis. Setelah kita mendapatkan kertas hasil ujian dipersilakan memeriksa dan protes jika ada yang tidak sesuai. Saya mulai hilir mudik mencari teman saya si-anak-kesayangan-ibu, mengambil kertasnya begitu saja dan memeriksa apa yang salah, bertanya apakah salahnya sama dengan yang saya buat pentingnyaaaa. haha dan ternyata saya juga hanya menemukan kesalahan kecil pada kertas teman saya. Saya bingung. Teman saya tidak. Dia mulai menghitung kembali total nilai yang dia peroleh dan ternyata dia menemukan kesalahan perhitungan dari si ibu. Baru kali ini terjadi. Sungguh.

Berdua kita mendatangi ibu, memberitahukan dan mempertanyakan kemungkinan kesalahan perhitungan hasil ujian. Ibu baru sadar. Teman-teman yang lain menyimak. Menghitung kembali nilai masing-masing dan taraaaa lebih dari 50% siswa di kelas saya mendapatkan nilai di atas 80.

Masalah timbul. Ibu sudah memberikan hadiah masing-masing ke tiap siswa di kelas saya, selain saya dan anak-kesayangan-ibu yang dari sebelum kesalahan perhitungan sudah mendapat nilai di atas 70 songong. Teman-teman saya mulai bercanda dengan si ibu, dengan mengatakan kesakitan habis dikasi hadiah. Si ibu pusing dan akhirnya terlontarlah kalimat yang sangat sakti dari mulut ibu “Kalian yang mau cubitannya dibalikin, cubit saja saya”. LOL

Saya hanya senyam-senyum dikulum mendengarkan pernyataan si ibu. Teman-teman saya pun begitu. Sesakit apapun cubitan yang didapatkan teman saya tidak membuat kita menjadi durhaka. Guru tetaplah guru, manusia yang bisa melakukan kesalahan.

Terlepas dari hal tersebut, kejadian ini tidak mempengaruhi si ibu untuk mengganti hadiahnya menjadi hadiah yang lain. semacam coklat misalnya untuk anak-anak yang dapat nilai di atas target ngarep. Satu hal yang jelas, hadiah ibu cukup memotivasi saya belajar yang benar untuk mata pelajaran kimia. Dan sampai saat kuliah kimia termasuk top 5 mata pelajaran yang saya sukai.

2 comments:

a_LanD_a said...

Alangkah indahnya kalau pernah dapat nilai "0".. sedaapp...

Yola SS said...

@a_LanD_a: panen donkk :D