![]() |
| dapat dari sini |
Jumat, 9
Desember 2011. 19:30. Sudah bersiap-siap
pulang ke kost-an setelah lelah bekerja seharian. Seperti biasanya saya dan
tiga teman lainnya berinisiatif untuk queue
di BEJ karena kita memang mengandalkan voucher taksi untuk perjalanan pergi dan
pulang dari klien. Hari biasanya kita bisa saja mencoba peruntungan mendapatkan
taksi di seberang kantor klien yang tepat di depan GBK, tapi tidak dengan
jumat. Setelah beberapa kali jumat yang tidak mendapatkan taksi kita mengikhlaskan
1-1.5 jam waktu untuk queue di BEJ. Begitulah
kehidupan Jakarta, sekalipun sudah malam kota ini tidak pernah mati. Hidup.
Padat. Bahkan di jumat malam jangan berharap lalu lintas di kota ini sepi
seperti padang rumput. Jumat malam dimana hampir sebagian penduduk Jakarta
berbondong-bondong keluar kota untuk menghindari kejenuhan di kota metropolitan
ini. Keluar bisa saja ke bandung, puncak ataupun ke garut. Kemana saja yang
penting keluar dari kota ini.
Queue
yang cukup lama ini tak lantas membuat saya kehilangan akal. Selain ada teman
bareng pulang kearah yang sama, saya lebih suka memperhatikan kehidupan di
sekitar saya. Mulai dari banyaknya tukang ojek berseragam bak polentas hilir
mudik di depan queue sampai lalu lalang
orang yang terburu-buru kearah dalam dan ke luar pacific place, yang berada di
depan queue ini selalu menarik
perhatian saya.
Disini ojek entah legal entah illegal, yang jelas mereka berseragam kuning kehijau-hijauan yang sering saya lihat seperti seragam polantas. Tetapi setiap kali mereka berhenti lama di depan queue selalu datang satu dua satpam untuk menyuruh mereka pergi. Selang 10 menit kemudian mereka muncul lagi dengan tangan menunjuk-nunjuk seperti anak sekolahan menunjuk jari untuk maju ke depan. Beda dengan anak sekolahan, telunjuk ini berarti mengajak setiap orang yang mereka temui untuk menaiki motor yang mereka kendarai untuk kemudian diantarkan ke tujuan penumpang. Yang menarik adalah ada satu bapak yang tidak hanya mengandalkan telunjuk jarinya untuk menarik penumpang. Si bapak ini dengan nada yang kocak berkata, “Ojek pak, ojek bu. Taksinya lama lho”. memang benar kata bapak itu, tidak pernah menunggu taksi disini dengan sebentar. Hanya satu dua taksi kosong yang lewat dan itupun kadang mereka melepas gas demi menghindari penumpang dari queue. Entah apa sebabnya.
Ketika
ada taksi kosong yang datang untuk menjemput para penumpang di barisan queue saya masih belum
sadar. Baru ketika si penumpang sudah masuk dan sopir taksi keluar dari bangku
pengemudi saya mengerti. Penumpangnya seorang bule yang tidak bisa berbahasa
Indonesia. Si bapak pengemudi panik memanggil-manggil mandor yang biasa
mencatat nomor taksi yang menyempatkan diri membelok ke queue sini. Menyuruh si
mandor untuk bertanya kemana tujuan si bule. Masalahnya lagi adalah si bapak
pengemudi tidak tahu jalan menuju tujuan si bule, setelah berdiskusi sebentar
dengan mandornya dan ditunjukkan jalan menuju tujuan si bule berangkatlah
mereka. Ada-ada saja.
Disini ojek entah legal entah illegal, yang jelas mereka berseragam kuning kehijau-hijauan yang sering saya lihat seperti seragam polantas. Tetapi setiap kali mereka berhenti lama di depan queue selalu datang satu dua satpam untuk menyuruh mereka pergi. Selang 10 menit kemudian mereka muncul lagi dengan tangan menunjuk-nunjuk seperti anak sekolahan menunjuk jari untuk maju ke depan. Beda dengan anak sekolahan, telunjuk ini berarti mengajak setiap orang yang mereka temui untuk menaiki motor yang mereka kendarai untuk kemudian diantarkan ke tujuan penumpang. Yang menarik adalah ada satu bapak yang tidak hanya mengandalkan telunjuk jarinya untuk menarik penumpang. Si bapak ini dengan nada yang kocak berkata, “Ojek pak, ojek bu. Taksinya lama lho”. memang benar kata bapak itu, tidak pernah menunggu taksi disini dengan sebentar. Hanya satu dua taksi kosong yang lewat dan itupun kadang mereka melepas gas demi menghindari penumpang dari queue. Entah apa sebabnya.
![]() |
| dapat dari sini dan sini |
Sebenarnya tidak hanya di
jumat malam susah mendapatkan taksi, ketika ada pertandingan bola di GBK
kondisinya juga tidak beda. Macet memang tapi bukan itu yang membuat sedikitnya
taksi kosong yang berseliweran di daerah perkantoran sudirman hingga senayan.
Pernah bapak sopir taksi bercerita di perjalanan saya pulang ke kantor,
teman-temannya sesama pengemudi bukannya lagi nyari penumpang tapi lagi nonton
bola bareng di warung-warung yang menyediakan tivi di tepi jalan. Bahkan ada
yang menggunakan fasilitas taksi karena beberapa taksi dilengkapi dengan tivi
portable di dalamnya.
Bukan maksud untuk
bersombong diri saya membiasakan diri pulang pergi dari dan ke klien dengan
taksi. Tetapi agak riskan rasanya saya naik kopaja dengan menenteng laptop
untuk keperluan kerja. Kopaja yang kondisinya bahkan lebih buruk dari kereta.
Semua orang berdesakan masuk, sekalipun sudah penuh sesak kenek tidak akan
berhenti menarik penumpang lainnya. Ada lagi busway yang setiap jam pulang
kantor kondisinya sama dengan kopaja, hanya saja berbeda pada fasilitas bis
yang digunakan. Busway ada AC yang sebenernya tidak berpengaruh banyak kalau
sudah terisi penuh sesak. Antriannya pun bahkan kadang sudah mencapai jembatan
penyeberangan saking ramenya. Dan lagi saya dan ketika teman lainnya sama-sama
tinggal di kawasan yang sama sehingga memudahkan dan memperkecil biaya
transportasi. Hehehe
Mungkin ketika nanti kota
ini telah dilengkapi dengan MRT (Mass Rapid Transit), semacam kereta
cepat bawah tanah yang selalu tepat waktu, kesemruwetan lalu lintas di kota ini
akan berakhir. Ayo donk yang muda yang berkarya untuk negeri #lho


0 comments:
Post a Comment