Sunday, December 11, 2011

Sepenggal Kehidupan Malam Jakarta


dapat dari sini
Jumat, 9 Desember 2011.  19:30. Sudah bersiap-siap pulang ke kost-an setelah lelah bekerja seharian. Seperti biasanya saya dan tiga teman lainnya berinisiatif untuk queue di BEJ karena kita memang mengandalkan voucher taksi untuk perjalanan pergi dan pulang dari klien. Hari biasanya kita bisa saja mencoba peruntungan mendapatkan taksi di seberang kantor klien yang tepat di depan GBK, tapi tidak dengan jumat. Setelah beberapa kali jumat yang tidak mendapatkan taksi kita mengikhlaskan 1-1.5 jam waktu untuk queue di BEJ. Begitulah kehidupan Jakarta, sekalipun sudah malam kota ini tidak pernah mati. Hidup. Padat. Bahkan di jumat malam jangan berharap lalu lintas di kota ini sepi seperti padang rumput. Jumat malam dimana hampir sebagian penduduk Jakarta berbondong-bondong keluar kota untuk menghindari kejenuhan di kota metropolitan ini. Keluar bisa saja ke bandung, puncak ataupun ke garut. Kemana saja yang penting keluar dari kota ini.

Queue yang cukup lama ini tak lantas membuat saya kehilangan akal. Selain ada teman bareng pulang kearah yang sama, saya lebih suka memperhatikan kehidupan di sekitar saya. Mulai dari banyaknya tukang ojek berseragam bak polentas hilir mudik di depan queue sampai lalu lalang orang yang terburu-buru kearah dalam dan ke luar pacific place, yang berada di depan queue ini selalu menarik perhatian saya.


Disini ojek entah legal entah illegal, yang jelas mereka berseragam kuning kehijau-hijauan yang sering saya lihat seperti seragam polantas. Tetapi setiap kali mereka berhenti lama di depan queue selalu datang satu dua satpam untuk menyuruh mereka pergi. Selang 10 menit kemudian mereka muncul lagi dengan tangan menunjuk-nunjuk seperti anak sekolahan menunjuk jari untuk maju ke depan. Beda dengan anak sekolahan, telunjuk ini berarti mengajak setiap orang yang mereka temui untuk menaiki motor yang mereka kendarai untuk kemudian diantarkan ke tujuan penumpang. Yang menarik adalah ada satu bapak yang tidak hanya mengandalkan telunjuk jarinya untuk menarik penumpang. Si bapak ini dengan nada yang kocak berkata, “Ojek pak, ojek bu. Taksinya lama lho”. memang benar kata bapak itu, tidak pernah menunggu taksi disini dengan sebentar. Hanya satu dua taksi kosong yang lewat dan itupun kadang mereka melepas gas demi menghindari penumpang dari queue. Entah apa sebabnya.


dapat dari sini dan sini 

Ketika ada taksi kosong yang datang untuk menjemput para penumpang di barisan queue saya masih belum sadar. Baru ketika si penumpang sudah masuk dan sopir taksi keluar dari bangku pengemudi saya mengerti. Penumpangnya seorang bule yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Si bapak pengemudi panik memanggil-manggil mandor yang biasa mencatat nomor taksi yang menyempatkan diri membelok ke queue sini. Menyuruh si mandor untuk bertanya kemana tujuan si bule. Masalahnya lagi adalah si bapak pengemudi tidak tahu jalan menuju tujuan si bule, setelah berdiskusi sebentar dengan mandornya dan ditunjukkan jalan menuju tujuan si bule berangkatlah mereka. Ada-ada saja.

Sebenarnya tidak hanya di jumat malam susah mendapatkan taksi, ketika ada pertandingan bola di GBK kondisinya juga tidak beda. Macet memang tapi bukan itu yang membuat sedikitnya taksi kosong yang berseliweran di daerah perkantoran sudirman hingga senayan. Pernah bapak sopir taksi bercerita di perjalanan saya pulang ke kantor, teman-temannya sesama pengemudi bukannya lagi nyari penumpang tapi lagi nonton bola bareng di warung-warung yang menyediakan tivi di tepi jalan. Bahkan ada yang menggunakan fasilitas taksi karena beberapa taksi dilengkapi dengan tivi portable di dalamnya.

Bukan maksud untuk bersombong diri saya membiasakan diri pulang pergi dari dan ke klien dengan taksi. Tetapi agak riskan rasanya saya naik kopaja dengan menenteng laptop untuk keperluan kerja. Kopaja yang kondisinya bahkan lebih buruk dari kereta. Semua orang berdesakan masuk, sekalipun sudah penuh sesak kenek tidak akan berhenti menarik penumpang lainnya. Ada lagi busway yang setiap jam pulang kantor kondisinya sama dengan kopaja, hanya saja berbeda pada fasilitas bis yang digunakan. Busway ada AC yang sebenernya tidak berpengaruh banyak kalau sudah terisi penuh sesak. Antriannya pun bahkan kadang sudah mencapai jembatan penyeberangan saking ramenya. Dan lagi saya dan ketika teman lainnya sama-sama tinggal di kawasan yang sama sehingga memudahkan dan memperkecil biaya transportasi. Hehehe

Mungkin ketika nanti kota ini telah dilengkapi dengan MRT (Mass Rapid Transit), semacam kereta cepat bawah tanah yang selalu tepat waktu, kesemruwetan lalu lintas di kota ini akan berakhir. Ayo donk yang muda yang berkarya untuk negeri #lho

0 comments: